Selasa, 29 Juni 2010

MATA KULIAH FILSAFAT ILMU DOSEN PROF.AMIR .PROGRAM STUDI S2 UNMUL SAMARINDA KALTIM

















Filsafat ilmu

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara bersungguh-sungguh. Binatang juga memiliki pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya. Hanyalah manusia yang mempunyai kemampuan rasional, melakukan ajtivitas kognitif dan mendambakan berbagai tujuan yang berkaitan dengan ilmu.
Pengetahuan dapat dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang dapat mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Sebab kedua, adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.
Pengetahuan juga merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Sukar untuk dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuam itu tidak ada, Karena pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan.
Pengetahuan dalam dunia filsafat dikenal dengan istilah epistemology. Epistemology dalam dunia filsafat membicarakan tentang hakikat pengetahuan, sumber pengatahuan dan cara memperoleh pengetahuan. Untuk lebih jelasnya akan saya bahas balam bab II

TEORI PENGETAHUAN
Berbicara tentang epistemology, dengan sendirinya harus maebicarakan tentang hakikat pengetahuan, sumber pengetahuan dan metode memperoleh pengetahuan. Ranah pertama yang menjadi kajian pengetahuan (epistemology) adalah apakah hakikat pengetahuan itu. Secara umum dipahami, pengetahuan adalah semua yang diketahui. Menurut Jujun S. Suriasumantri, pengetahuan adalah sebuah produk dari suatu proses kegiatan mental yang berupa berpikir. Untuk lebih jelasnya akan dibahas satu persatu sebagai berikut.
1. Hakikat Pengetahuan
Dalam masalah hakikat pengetahuan terdapat dua teori yang saling melengkapi, yaitu teori idealisme dan teori realisme. Pertama, teori idelisme merupakan sebuah teori tentang hakikat pengetahuan yang didasarkan pada pemahaman bahwa hakikat dari segala sesuatu adalah jiwa atau ide, bukan materi. Dengan kata lain jiwa di alam semesta ini menduduki posisi sentral.
Kedua teori realisme, teori ini didasarkan pada pandangan yang mengatakan bahwa hakikat segala sesuatu di alam ini adalah benda-benda sendirinya yang riil (being is being) dan bukan berada di alam ide. Kedua teori ini menimbulkan perbedaan sifat dasar pengetahuan. Karena hakikat pengetahuan didasarkan pada sesuatu yang bersifat abstarak (ide, jiwa, spirit), maka sifat pengetahuan dari teori idealisme adalah subyektif. Artinya pengetahuan sangat ditentukan oleh jiwa dan ide yang ada dalam diri seseorang. Sebaliknya, teori realisme yang didasarkan pada sesuatu yang bersifat konkrit (misalnya: air, udara, tanah,dll), maka lebih bersifat obyektif.
2. Sumber Pengetahuan
Pembicaraan selanjutnya adalah sumber pengetahuan. Berkaitan dengan pengetahuan, telah muncul beberapa aliran yang semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Pertama, aliran rasionalisme, yaitu aliran epstemilogy yang berpendapat bahwa suber dari seluruh pengetahuan manusia adalah easio atau akal. Kaum rasioanlis menggunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Rasionalisme dengan pemikiran deduktifnya sering manghasilkan kesimpulan yang benar bila ditinjau dari alu-alur logikanya, namun ternyata sangat bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya.
Yang kedua, empirisme, yaitu aliran epistemology yang berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah pengalaman pancaindra. Pengalaman disini bersifat lahiriah (sensation) ataupun bathiniah (reflection). Berlainan dengan kaum tasionalis maka kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman yang konkrit. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan empirs adalah bersifat konkrit dan dapat dinyatakan lewat tanggapan pancaindra manusia. Pengetahuan secara empiris ini ialah bahwa pengetahuan yang dikumpulkan itu cenderung untuk menjadi suatu kumpulan fakta-fakta.
Disamping rasionalisma dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting untuk kita ketahui adala intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakan.
Yang terakhir adalah wahyu, yaitu pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutus-Nya sepanjang zaman. Pengrtahuan ini didasarkan pada kepercayaan akan hal-hal yang ghaib (supranatural). Kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan, kepercayaan kepada Nabi sebagai perantara dan kepercayaan kepada wahyu sebagai cara penyampaian, merupakan dasar dari penyusunan pengetahuan ini
3. Metode Memperoleh Pengetahuan
Selanjutnya, manusia dalam upaya untuk memperoleh pengetahuan telah telah menggunakan berbagai cara. Sesuai dengan perkembangan sejarah manusia, metode yang digunakan dalam memperoleh pengetahuan mengalami gradasi yang cukup unik.
Pertama manusia memperoleh pengetahuan dengan cara melihat, mendengar, membau dan memegang. Setelah manusia mengindera sesuatu yang dilanjutkan dengan mengetahui sesuatu tersebut, maka muncul metode empirisme, karena empirisme itu sendiri berarti pengalaman. Metode kedua adalah dengan menggunakan akal yang mampu memahami sesuatu yang lebih tinggi. Istilah-istilah abstrak, konsep atau bahkan ide-ide sederhana sekalipun. Dan metode yang ketiga adalah dengan menggunakan hati nurani dan alat-alat indera dalam memperoleh pengetahuan. Jadi secara singkat dapat dikatakan, metode yang digunakan manusia dalam memperoleh pengetahuan adalah dari pengalaman indera lahir (empirisme), akal (rasionalisme) dan rasa atau indera batin (intuisionisme).
Bila melihat hakikat, sumber dan metode memperoleh pengetahuan di atas secara umum, maka pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, pengetahuan mistik merupakan pengetahuan yang pertama muncul dalam sejarah manusia. Pengetahuan ini memiliki obyek yang abstrak supralogis atau metarasioanl, menggunakan paradigma mistis. Metode yang digunakan untuk mencapai pengetahuan ini adalah dengan latihan atau meditasi. Kebenarannya ditentukan oleh rasa atau dzauq.
Kedua pengetahuan filsafat memiliki obyek abstrak tapi logis. Paradigma yang digunakan adalah paradigna logis, dengan menggunakan metode rasio atau pemikiran. Adapun kebenarannya diukur dengan apakah pengetahuan tesebut logis atau tidak logis. Dan ketiga, pengetahuan sains memiliki obyek empiris, mengunakan paradigma positif, metode yang ahrus digunakan adalah metode ilmiah, dan kebenarannya diukur apakah pengetahuan tersebut logis dan terbukti secara empiris atau tidak.
Pengetahuan yang dianggap benar atau valid dapat dilihat dari tingkat koherensi, korespondensi dan pragmatisnya. Dengan kata lain untuk menguji dan mengukur sebuah ide filosofis itu benar atau tidak terdapat teori yang dikembangkan para filosofis. Pertama, teori koherensi. Kebenaran pada dasarnya adalah terwujudnya konsistensi dan keharmonisan dari seluruh pernyataan. Pernyataan pada berbagai tingkatannya harus konsisten daan harmonis. Kedua, teori korespondensi. Kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan tentang fakta dengan fakta itu sendiri. dan ketiga, teori pragmatis. Kebenaran terletak pada beberapa fungsionalnya kebenaran tersebut dalam kehidupan praktis, artinya hal tersebut mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Kriteria pragmatis ini juga dipergunakan oleh ilmuwan dalam menetukan kebenaran ilmiah dilihat dalam perspektif waktu.

MERUMUSKAN MASALAH

Perumusan masalah sangat tergantung pada kemampuan logika.

Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.

Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.

Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

· Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.

· Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

· Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.

· Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika.

· Logika dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta. Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah mengenalkan logika induktif.

Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica.

Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu.

Dalam logika Thales, air adalah arkhe alam semesta, yang menurut Aristoteles disimpulkan dari :

· Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati)

· Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia

· Air jugalah uap

· Air jugalah es

Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam semesta.

Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan. Kaum Sofis beserta Plato (427 SM-347 SM) juga telah merintis dan memberikan saran-saran dalam bidang ini.

Pada masa Aristoteles logika masih disebut dengan analitica , yang secara khusus meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih diragukan kebenarannya.

Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme.

Buku Aristoteles to Oraganon (alat) berjumlah enam, yaitu :

· Categoriae menguraikan pengertian-pengertian

· De interpretatione tentang keputusan-keputusan

· Analytica Posteriora tentang pembuktian.

· Analytica Priora tentang Silogisme.

· Topica tentang argumentasi dan metode berdebat.

· De sohisticis elenchis tentang kesesatan dan kekeliruan berpikir.

Pada 370 SM - 288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum, melanjutkan pengembangn logika.

Istilah logika untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno dari Citium 334 SM - 226 SM pelopor Kaum Stoa. Sistematisasi logika terjadi pada masa Galenus (130 M - 201 M) dan Sextus Empiricus 200 M, dua orang dokter medis yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.

Porohyus (232 - 305) membuat suatu pengantar (eisagoge) pada Categoriae, salah satu buku Aristoteles.

Boethius (480-524) menerjemahkan Eisagoge Porphyrius ke dalam bahasa Latin dan menambahkan komentar- komentarnya.

Johanes Damascenus (674 - 749) menerbitkan Fons Scienteae.

Pada abad 9 hingga abad 15, buku-buku Aristoteles seperti De Interpretatione, Eisagoge oleh Porphyus dan karya Boethius masih digunakan.

Thomas Aquinas 1224-1274 dan kawan-kawannya berusaha mengadakan sistematisasi logika.

Lahirlah logika modern dengan tokoh-tokoh seperti:

· Petrus Hispanus 1210 - 1278)

· Roger Bacon 1214-1292

· Raymundus Lullus (1232 -1315) yang menemukan metode logika baru yang dinamakan Ars Magna, yang merupakan semacam aljabar pengertian.

· William Ocham (1295 - 1349)

Pengembangan dan penggunaan logika Aristoteles secara murni diteruskan oleh Thomas Hobbes (1588 - 1679) dengan karyanya Leviatan dan John Locke (1632-1704) dalam An Essay Concerning Human Understanding

Francis Bacon (1561 - 1626) mengembangkan logika induktif yang diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum Scientiarum.

J.S. Mills (1806 - 1873) melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi dalam bukunya System of Logic

Lalu logika diperkaya dengan hadirnya pelopor-pelopor logika simbolik seperti :

· Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) menyusun logika aljabar berdasarkan Ars Magna dari Raymundus Lullus. Logika ini bertujuan menyederhanakan pekerjaan akal budi dan lebih mempertajam kepastian.

· George Boole (1815-1864)

· John Venn (1834-1923)

· Gottlob Frege (1848 - 1925)

· Lalu Chares Sanders Peirce (1839-1914), seorang filsuf Amerika Serikat yang pernah mengajar di John Hopkins University,melengkapi logika simbolik dengan karya-karya tulisnya. Ia memperkenalkan dalil Peirce (Peirce's Law) yang menafsirkan logika selaku teori umu mengenai tanda (general theory of signs)

· Puncak kejayaan logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970).

Logika simbolik lalu diteruskan oleh Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Rudolf Carnap (1891-1970), Kurt Godel (1906-1978), dan lain-lain.

Logika masuk kedalam kategori matematika murni karena matematika adalah logika yang tersistematisasi.

Matematika adalah pendekatan logika kepada metode ilmu ukur yang menggunakan tanda-tanda atau simbol-simbol matematik (logika simbolik).

Logika tersistematisasi dikenalkan oleh dua orang dokter medis, Galenus (130-201 M) dan Sextus Empiricus (sekitar 200 M) yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.

Puncak logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970).

Kegunaan logika adalah :

· Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.

· Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.

· Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.

· Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis

· Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpkir, kekeliruan serta kesesatan.

· Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.

· menjabarkan masalah itu menjadi langkah-langkah yang lebih kecil, dan menyelesaikannya sedikit demi sedikit, serta membentuk pola/ menciptakan aturan-aturan (rumus).

· menggunakan metode ilmiah dalam menjawab suatu pertanyaan. Metode ilmiah ini secara singkat berarti membuat hipotesa, menguji hipotesa dengan mengumpulkan data untuk membuktikan/ menolak suatu teori, dan mengadakan eksperimen untuk menguji hipotesa tersebut.

Seseorang dengan kecerdasan logika akan memiliki salah satu/lebih kemampuan di bawah ini :

· memahami angka serta konsep-konsep matematika (menambah, mengurangi, mengali, dan membagi) dengan baik.

· mengorganisasikan/ mengelompokkan kata-kata/ materi (barang)

· mahir dalam menemukan pola-pola dalam kata-kata dan bahasa.

· menciptakan, menguasai not-not musik, dan tertarik mendengarkan pola-pola dalam jenis musik yang berbeda-beda.

· menyusun pola dan melihat bagaimana sebab-akibat bekerja dalam ilmu pengetahuan. Hal ini termasuk kemampuan untuk memperhatikan detil, melihat pola-pola dalam segalanya, mulai dari angka-angka hingga perilaku manusia, dan mampu menemukan hubungannya

o Contoh 1: seseorang yang menghabiskan waktu di dapur menggunakan logikanya untuk menerka berapa lama waktu untuk memanggang sesuatu, menakar bumbu, atau merenungkan bagaimana caranya menghidangkan semua makanan agar siap dalam waktu yang bersamaan

o Contoh 2: seorang detektif kriminal menggunakan logikanya untuk mereka ulang kejadian pada kasus kejahatan dan mengejar tersangka pelaku.

· menciptakan visual (gambar) untuk melukiskan bagaimana ilmu pengetahuan bekerja, termasuk menemukan pola-pola visual dan keindahan ilmu pengetahuan (contohnya: menguraikan spektrum cahaya dalam gambar, menggambarkan bentuk-bentuk butiran salju, dan mahluk bersel satu dari bawah mikroskop), mengorgansisasikan informasi dalam tabel dan grafik, membuat grafik untuk hasil-hasil eksperimen, bereksperimen dengan program animasi komputer.

· menentukan strategi dalam permainan-permainan yang memerlukan penciptaan strategi (contohnya catur, domino) dan memahami langkah-langkah lawan.

· memahami cara kerja dan bahasa komputer termasuk menciptakan kode-kode, merancang program komputer, dan mengujinya.

Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif.

Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir.

Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi.

Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman.

Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.

pikiran merupakan perkataan dan logika merupakan patokan, hukum atau rumus berpikir.

Logika bertujuan untuk menilai dan menyaring pemikiran dengan cara serius dan terpelajar serta mendapatkan kebenaran terlepas dari segala kepentingan dan keinginan seseorang.

Pengetahuan merupakan hasil dari aktivitas berpikir yang menyelidiki pengetahuan yang berasal dari pengalaman-pengalaman konkret, pengalaman sesitivo-rasional, fakta, objek-objek, kejadian-kejadian atau peristiwa yang dilihat atau dialami. Logika bertujuan untuk menganalisis jalan pikiran dari suatu penalaran/pemikiran/penyimpulan tentang suatu hal.

Ilmu harus dibedakan dari pengetahuan.

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang datang sebagai hasil dari aktivitas mengetahui yaitu tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya, sedangkan ilmu menghendaki lebih jauh dari itu.

ilmu adalah kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu yang merupakan satu kesatuan yang tersusun secara sistematis, serta memberikan penjelasan yang dipertanggung jawabkan dengan menunjukkan sebab-sebabnya.

Orang yang sedang mencari solusi atas suatu permasalahan sering tidak mencapai hasil yang memuaskan.

Hal ini disebutnya dengan krisis kreativitas sehingga Ia menyebutkan hal-hal yang sering terjadi pada setiap orang sehingga menghambat potensinya untuk menjadi kreatif.

Dengan kata lain Ia menyebutkan bahwa ada jalan pikiran lain yang bisa ditempuh oleh seseorang tanpa mengingkari logika berpikir.

Hal-hal yang menghambat kreativitas seseorang :

· Kebiasaan, cara-cara memandang objek berdasarkan kebiasaan dapat menemui berbagai hambatan yang disebut ‘functional fixation’. Hal ini berhubungan dengan fakta bahwa kita mempunyai beberapa kebiasaan mental dan untuk beberapa alasan tetap mempertahankannya.

· Waktu, kesibukan merupakan alasan untuk menjadi tidak kreatif. Tetapi sebenarnya banyak orang yang tidak mau menginvestasikan waktunya itu untuk menajamkan kreativitas mereka atau memanfaatkannya.

· Dibanjiri masalah, sebagian dari kita merasa bahwa kita berhadapan dengan begitu banyak masalah yang penting sehingga kita tidak mempunyai cukup waktu dan tenaga untuk mengatasi beberapa masalah secara kreatif.

· Tidak ada masalah, kita sering merasakan tidak ada masalah dan kesempatan, karena para ahli telah menemukan semua jawaban atau telah mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat dilaksanakan.

· Takut Gagal, kita dapat menghindari kegagalan dan kreativitas dengan berbagai cara : dengan menyesuaikan diri, tidak pernah mencoba sesuatu yang berbeda, meyakinkan diri bahwa kita hanya menggunakan gagasan yang telah terbukti berhasil dan berjalan pada lorong-lorong yang telah sirintis. Dengan demikian kita menghindari kegagalan-kegagalan kecil. Namun kita telah gagal sebagai manusia. Kita menjadi tumbuh secara tidak kreatif melebihi kebiasaan-kebiasaan lama dan naluri.

· Kebutuhan akan sebuah jawaban sekarang, manusia tidak mau mengalami kesulitan karena tidak memiliki suatu jawaban langsung. Ketika suatu masalah dikemukakan, secara langsung kita memberikan sebuah pemecahan. Hanya jika pemecahan pertama tidak berhasil maka kita mencoba cara yang lain.

· Kesulitan kegiatan mental yang diarahkan, seringkali secara mental kita menyelipkan perasaan khawatir atau kekacau-balauan berpikir di dalam jangkauan kita. Dari keadaan serupa itu kadang-kadang timbul suatu pemikiran yang bernilai. Akan tetapi, karena dari mula kita memang tidak mencari suatu pemecahan atau jawaban bagi suatu masalah, maka tidak ada gagasan atau wawasan bagi suatu masalah, maka tidak ada gagasan atau wawasan yang muncul dari dalam pikiran kita. Kita seringkali dibingungkan oleh masalah seberapa jauh kita telah memikirkan atau mencemaskan suatu permasalahan serta bagaimana mengarahkan dan menghasilkannya.

· Takut bersenang-senang, kita dapat menjadi lebih kreatif dengan bersenang-senang. Akan tetapi banyak orang yang merasa bersalah bila mereka bersenang-senang. Manusia sering tidak sadar bahwa rileks, bergembira, dan bersantai-santai merupakan aspek-aspek yang penting dari proses pemecahan masalah secara kreatif.

· Kritik orang lain, secara tak sengaja kreativitas sering terhambat oleh kritik-kritik orang lain. Bila suatu gagasan baru diperkenalkan, gagasan tersebut sering dipatahkan dan diobrak-abrik. Seseorang dengan gagasannya ditertawakan dengan ungkapan-ungkapan sebagai berikut.

cara untuk menguji suatu gagasan atau pemikiran atau hipotesis dalam ukuran-ukuran :

· Relevansi, pemikiran yang diajukan harus berusaha menerangkan fakta-fakta yang dihadapi. Oleh karena itu hipotesis harus relevan dengan fakta yang hendak dijelaskan.

· Mampu untuk diuji, ini adalah ciri utama yang membedakan antara hipotesis ilmiah dan hipotesis non-ilmiah. Hipotesis harus memiliki kemampuan untuk diuji dengan fakta-fakta inderawi atau perhitungan logis.

· Bersesuaian dengan hipotesa yang telah diterima sebagai pengetahuan yang benar.

· Mempunyai daya ramal, hipotesis yang baik tidak saja mendeskripsikan fakta fakta, tetapi interpretasi yang dibuatnya mampu menjelaskan fakta-fakta sejenis yang tidak diketahui atau belum diselidiki.

· Sederhana, tujuan pemikiran manusia adalah mencapai pengetahuan yang benar dan sedapat mungkin pasti. Tapi dalam kenyataannya hasil pemikiran maupun alasan-alasan yang diajukan belum tentu selalu benar. Jadi ukuran dalam menentukan apakah suatu pemikiran atau penalaran adalah benar atau salah bukanlah rasa senang atau tidak senang, enak atau tidak enak, melainkan cocok atau tidak dengan fakta atau tidak.

Empat Pertanyaan pemandu perumusan masalah :

· Apa yang hendak ditegaskan atau apa pokok pernyataan yang diajukan.

· Bagaimana hal itu : Atas dasar orang sampai pada kesimpulan atau pertanyaan itu ?

· Bagaimana jalan pikiran yang mengaitkan alasan-alasan yang diajukan dan kesimpulan yang ditarik? Bagaimana langkah-langkahnya ? Apakah kesimpulan itu sah ?

· Apakah kesimpulan atau penjelasan itu benar ? Apakah pasti ? Atau hanya mungkin tidak benar ?

Untuk membantu untuk menguji atau menganalisis suatu pemikiran, maka berguna sekali menyusun jalan pikirannya dalam bentuk sebuah skema, sehingga tampak jelas mana yang merupakan kesimpulan, mana yang asalan, serta bagaimana orang tertentu menarik kesimpulan tertentu dari alasan-alasan sebagai berikut :

· Pemikiran harus berpangkal dari kenyataan atau titik pangkalnya harus benar

· Alasan-alasan yang diajukan harus tepat dan kuat

· Jalan pikiran harus logis atau lurus/sah.

· Memadukan pikiran sadar dan bawah sadar, kita perlu tidak hanya menarik kesimpulan berdasarkan pikiransadar kita yang terbatas, tetapi juga berdasarkan pikiran bawah sadar kita yang luas.

· Keunikan individu, untuk menjadi lebih kreatif kita harus mengakui keunikan kita dan memanfaatkannya dengan memilih gagasan-gagasan yang kita anggap bernilai bagi kita berdasarkan tujuan, kebutuhan, dan pengalaman yang unik.

· Perasaan dan intuisi yang mendalam, intuisi kita sering tidak jelas dan tidak rasional malahan lebih merupakan pemikiran mental bawah sadar. Mungkin kondisi paling intern dari orang yang kreatif adalah sumber intern penilaian dan seleksi mereka.

· Kriteria, kita gunakan untuk menentukan gagasan mana yang terbaik dan merupakan standar sadar yang kita gunakan untuk mengukur nilai gagasan-gagasan kita. Kriteria ini memperkenalkan suatu unsur yang sadar, sistematis, berhati-hati, yang memabntu mengorganisasi dan memfokuskan kemempuan penyeleksian sadar serta bawah sadar kita.

· untuk memilih gagasan yang terbaik adalah menggunakan kriteria yang telah dibina untuk membantu mengevaluasi gagasan pemecahan masalah. Kemudian singkirkan gagasan yang bukan bukan atau menggelikan dan gagasan sejenisnya.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa pengetahuan dalam dunia filsafat dikenal dengan istilah epistemology, yang membicarakan tentang hakekat pengetahuan dimana terdapat dua teori yang saling melengkapi, yaitu teori idealisme dan teori realisme.pembicaraan selanjutnya adalah sumber pengetahuan yang berkaitan dengan rasionalisme, empirisme, intuisionisme dan wahyu.dan yang terakhir adala metode yang dipakai manusia untuk memperoleh pengetahuan diantaranya dengan cara menggunakan akal (rasionalisme), pengalaman indera lahir (empirisme) dan rasa atau indera batin (intuisionisme).
Oleh Karen itu pengetahuan dapat dikelompokkan maenjadi tiga, yaitu pengetahuan mistis, pengetahuan filsafat dan pengetahuan sains. Adapun untuk mengukur apakah pengetahuan itu benar atau tidak dapat mnusia dapat menggunakan tiga teori, yaitu teori koherensi, teori korespondensi dan teori pragmatis.


3 komentar:

  1. Mksih banyak, artikel ini udah banyak membantu saya dalam memulai mata kuliah filsafat ilmu

    BalasHapus
  2. Sangat membantu pembelajaran awal

    BalasHapus
  3. Why do you make money from gambling? - Work-to-Earn
    For sports bettors, it's not 세종특별자치 출장샵 as simple as playing งานออนไลน์ cards and the bettors have to wager. 평택 출장안마 To make the sports bettors have 경기도 출장샵 to 제주도 출장안마 wager money they must wager more and

    BalasHapus